PMO Gelar Informal Meeting Pertama Tahun 2019, Towards an Eco-Friendly Office

PMO Gelar Informal Meeting Pertama Tahun 2019, Towards an Eco-Friendly Office

Jakarta, 06/05/2019 Kemenkeu – Dalam rangka menghadapi tantangan global dengan transformasi digital di lingkungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terutama Sekretariat Jenderal (Setjen), Project Management Office (PMO) Setjen menyelenggarakan PMO Informal Meeting (PIM) I di selasar Gedung Djuanda I, pada Jumat (03/05). Acara yang mengangkat tema “Towards an Eco-Friendly Office” ini merupakan wadah bagi pejabat dan pegawai Setjen untuk menambah wawasan tentang kantor ramah lingkungan, dan pengelolaan sampah yang baik dan benar.

Membuka kegiatan tersebut, Kepala Biro Organisasi dan Ketatalaksanaan (Organta) Dini Kusumawati—selaku Ketua PMO Setjen, menyatakan bahwa Kemenkeu beradaptasi dengan tranformasi digital dalam bentuk visi dan misi baru.

“Adanya penambahan kata ‘produktif, kompetitif dan berkeadilan’ pada visi Kemenkeu. Serta memasukkan poin digital pada misi mengembangkan proses bisnis inti berbasis digital dan pengelolaan SDM yang sesuai dengan kemajuan teknologi,” tutur Dini.

Salah satu langkah untuk mewujudkan visi dan misi Kemenkeu yang baru yaitu dengan menjadikan Kemenkeu sebagai eco-friendly office. Head of Commercial Development Astra Frans Surjadi, berbagi tentang sistem eco-friendly office yang diterapkan Astra. Menara Astra meraih Building and Construction Authority Green Mark Platinum Certificate karena efisiensi energi yang dilakukannya.

“Kriteria untuk Green Mark Platinum diantaranya yaitu efisiensi air, udara, pengelolaan sampah, kualitas udara, suara sampai ke manajemen sistem dari façade (muka gedung). Selain itu, Astra juga berhasil melakukan efisiensi energi untuk Air Conditioner (AC), lampu dan lift serta eskalator. Selain itu, Astra juga sudah punya sistem untuk memaksimalkan air hujan,” kata Frans.

Sementara Waste4Change Communication Marketing Hana Nur Auliana menuturkan bahwa sistem pengelolaan sampah yang baik adalah yang hal terpenting menuju eco-friendly office. Untuk itu diperlukan tiga hal yaitu, regulasi, informasi dan pembiayaan.

“Pengelolaan sampah adalah kebijakan yang harusnya top-down. Jadi top management-nya dulu yang ok untuk mengelola sampah, sehingga menjadi regulasi dan peraturan yang akan dilakukan oleh setiap orang. Setelah regulasi maka perlu diberikan informasi kepada setiap orang, atau (disediakan) tempat sampah terpilah. Lalu yang ketiga adalah pembiayaan yang mencakup seluruh pengelolaan sampah,” pungkas Hana. (mro/kom/wa)


facebook twitter
shadow